Followers

Thursday, December 1, 2011

.: Perawannya aku sekali lagi :.

Bila datang angin kelabu
Aku tak pernah lagi peduli si warna-warna
yang sedaya memberi aku rasa untuk segaris senyuman

Bila datang angin kelabu
Aku tak pernah lagi hirau sang corak-corak
yang berkeras memberi aku rasa untuk segaris senyuman

Mata aku tidak lagi meliar menembusi sang cakrawala
Mata aku tidak lagi melompat menembusi sang pawana
Mata aku akan jadi kaku
Melotot pada satu ozon yang lurus tanpa belok
Telinga akan jadi budek menepis setiap prosa yang cuba mengetok tingkap gegendang

Tangan aku letak di dada menghentak halus
Biar ia memujuk debaknya rasa
Agar jangan berdenyut
berhentilah hiba wahai si qalbi
Tangan aku letak di dada menghentak lembut
Biar ia membelai debaknya rasa
Agar jangan berdetak
berhentilah duka wahai si qalbi.





pen off--





p/s : kadang kita bisa saja menambah energi pada taulan yang sedang dilanda duka, tapi bila tiba masa yang empunya cerita bergelora, langkah terus terhenti... kadang si qalbi mendesak, memaksa si penjaga menyerah, berkongsi tampuk jagaan pada tangan2 kasar.. mungkin penjagaannya lebih rapi. tapi si qalbi lupa, lemahnya si qalbi yang buat si penjaga berhati-hati. si qalbi lupa, si penjaga takut runtuhnya qalbi untuk kesekian kali.

orang mungkin saja bisa mendengar, tapi dengarnya hanya bersama angin. makanya itu tidak perlu.

No comments: